" "

Bertemu Semestinya - Soloensis

Proses pembuatan lirik (Isyak) di share dulu ke teman teman player dulu dan song sudah dibuat oleh isyak (vocal/guitar), lalu dikembangkan di studio ketika latihan lalu aransmen lagu di proses bersama,dan kebetulan Sinom Jalu (Guitar) mempunyai Home recording yang bernama Crossroad Record dan selama ini produksi rekaman di garap sendiri dan di direct oleh Sinom Jalu (guitar) jadi menurut kami apa yang masih bisa dilakukan sendiri kita bergerak sendiri dan mengolah sendiri dari proses recording sampai finishing lalu rilisan pun kita garap sendiri sementara tentunya bekerja sama dengan teman teman media nasional,atau media lokal sendiri. ̶  (kutipan interview dengan PUNGKAS )



Proses Produksi
Lagu di rekam di Crossroad Record kebetulan yang punya guitaris soloensis sendiri studionya dan di direct oleh jalu , dan lagu Bertemu semestinya kita rilis dalam bentuk video lirik, video oleh Maman Padang videographer Soloensis dan Colabs lirik bersama Ari Hamzah ex.Endang Soekamti,Sebenarnya susah bagi kami untuk menyebut genre musik yang kami bawakan secara tepat, dibilang Punk, Garage, atau bukan itu, padahal kami membawa protes politik, protes kemanusiaan. Di bilang psychedelic rock? Musik kami tidak menggunakan gear – gear effect yang aneh dan penuh ambience, tetapi kami membawakan manifestasi psikis kami pada lirik lagu – lagu kami. Dibilang Rock? Kami tidak begitu handal dalam skill bermain, tetapi kami selalu berusaha tetap rock menurut kami sendiri. Genre Soloensis adalah ketika teman – teman menyaksikan secara utuh apa yang kami bawakan di panggung live, ketika itulah anda bisa menyebut genre kami sesuai keterwakilan anda terhadap musik Soloensis. Karena apa yang kami lakukan dengan SOLOENSIS ini hanya tentang musik dan apa yang ingin kami sampaikan hingga waktu yang tak tentu.

Esensi Lagu
“Bertemu Semestinya” adalah bentuk rasa terima kasih Soloensis kepada orang-orang yang mengapresiasi bandnya. Diawali dengan senandung pujian-pujian, yang sekilas terdengar seperti mantra saiwa atau shiwa dalam Bahasa Sunda dengan durasi dan porsi yang tidak terlalu dominan, sampai kemudian suara crunch gitar dengan sentuhan distorsi yang renyah, meneruskan komposisi musiknya. Setidaknya itulah gambaran dari karya terbaru Soloensis di video klip terbarunya “Bertemu Semestinya”. Dengan mengambil tema lirik pertemuan, Soloensis membuat tema tersebut menjadi sebuah hal mendasar dari manusia yang selalu membutuhkan manusia lainnya. Seperti halnya Adam yang ratusan atau bahkan ribuan tahun mencari Hawa, yang ketika itu keduanya sama-sama diturunkan ke Bumi dan harus berpisah. Sampai akhirnya mereka dipertemukan, dan mulailah cerita peradaban manusia pertama di dunia berawal. Tema itu diambil oleh kelompok musik Soloensis, yang tentunya atas gubahan dan perspektif mereka sendiri tentang pertemuan. Lirik awalnya yang berbunyi “bukan sengaja yang terjadi, tertarik kita di kutub yang sama”, seakan menegaskan bahwa tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini karena kebetulan, bahkan untuk sehelai daun yang terjatuh dari pohon sekalipun. Beberapa dari kita bisa jadi sadar ataupun tidak, bahwa sejatinya hidup tiap manusia sudah terpola sedemikian rupa, sehingga nantinya manusia akan digolong-golongkan dengan kaumnya, yang dalam hal ini perumpamaan seperti itu digambarkan oleh lirik “tertarik di kutub yang sama”. Artian tentang pertemuan ini dipersempit lagi secara esensi dan estetikanya dalam bentuk karya video lirik Soloensis yang berjudul “Bertemu Semestinya”, melalui gambaran sebuah pertunjukan mereka dalam satu panggung, dengan kumpulan orang yang tengah asyik menikmati musik lewat gerakan badan mereka. Unsur blues rock dan sedikit sentuhan psychedelic dari musiknya bersinergi dengan cuplikan kumpulan orang-orang, dalam satu frekuensi yang sama-sama sedang menikmati musik. Sinergi antara penonton dan mereka yang bermain musik di atas panggung adalah penggambaran dari lirik ada di “kutub yang sama” tadi. Hal itu tertangkap baik oleh kamera yang mengabadikan nuansa di satu frekuensi yang sama dalam satu pertunjukan musik. Mereka saling berbagi peluh, bernyanyi bersama, berekspresi, dan ikut hanyut oleh musik yang Soloensis mainkan, dari beberapa footage yang berhasil dikumpulkan oleh Janu, Gigih, Maman Padang, Ardi, Edgar. Video ini di edit sedemikian rupa oleh Maman Padang, untuk menangkap tiap detil keseruan dari sebuah pertemuan, yang dalam hal ini pertemuan itu ada dalam satu pertunjukan musik. Ditambah dengan suguhan visual lirik dari Ari Hamzah dalam klipnya, ini seakan sejalan dengan apa yang menurut Soloensis tuliskan dalam deskripsi singkatnya di video klip ini, bahwa lagu “Bertemu Semestinya” adalah sebuah penghargaan atau rasa terima kasih dari Soloensis, kepada siapapun yang terlibat langsung untuk datang dan jadi bagian dari pertunjukan yang Soloensis gelar. Karena sejatinya apalah artinya sebuah pertunjukan tanpa adanya penonton yang terlibat.

Tentang Music Artwork
Tidak ada arwork di lagu Bertemu Semestinya, di video lirik sudah mewakili arti lagu tersebut bisa cek di chanel Youtube Soloensis.

Video Klip
Video oleh Maman padang diambil dari beberapa footage soloensis saat perform,lirik dibuat oleh Ari Hamzah

Proses Rilis
Label kita "Crossroad Record" sendiri untuk sementara ini kita memaksimalkan potensi di dalam lingkup soloensis sensiri,untuk agregator spotify dll kita kerja sama dengan inside jakarta,prosesnya simple kita buat press release dan menawarkan kerja sama ke berbagai media dan di direct langsung dari official web soloensis,tapi sementara ini web sedang di perbaiki, dan dirilis hanya lewat chanel youtube Soloensis saja pada saat itu,untuk sekarang bisa di dengar di spotify dll.

Respect Music menurut PUNGKAS
Menghargai, kalau menurut saya sendiri sih saya kembalikan ke pada audience atau fanbase masing2 karna kita bertemu banyak orang ketika bermain musik,berkarya dan berada di skena musik, karna menghargai itu perspektif, kalau selama ini yang saya lihat cara menghargainya membeli rilisan fisik maupun digital dan mengikuti pergerakan/movement , perkembangan band tersebut.


Lirik Bertemu Semestinya - Soloensis
Haa... haa.. haaa.. bukan tak sengaja yang terjadi tertarik kita pada kutub yang sama ekspresikan hati dan olahrasa sembari bersama dialektika senang, aku senang seperti ini bertemu kita pada yang semestinya bertatap muka dan saling jaga sehat fikirnya juga jiwanya terimakasih pada yang menjadikan dari tertekan menuju pembebasan lelah selama dalam perjuangan tergantikan dengan perjamuan bukan bukan, bukan saling kultus bukan pula sesuatu yang kudus ini hanya ritual sederhana sesederhana ketika aku teriak aa… aaaa..a…. aa… aaaa..a…..






Tulisan diatas adalah kiriman dari kontributor, yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Baca lainnya:



Advertise · Terms · Contribute · Logo · Contact